::DeLaKeke::

Kenangan Harapan Cinta dan Persahabatan

Image hosted by Photobucket.com

HAPPY BIRTDAY

Di hari yang bahagia ini Senin 29 Agustus 2005, kuucapkan Selamat Ulang Tahun yang ke-19 buat sahabatku All-iN, semoga panjang umur, sehat selalu, bahagia, sukses selalu dengan apa yang di cita-citakan, tambah dewasa serta bijaksana dalam berpikir dan bertindak. Amiennn.

Dalam perjalanan kurun waktu selama ini , banyak sudah berbagai peristiwa yang telah terlewati. Ambilah pelajaran dan hikmah serta pengalaman bagi All-iN

Dan tetap selalu bersyukur pada-Nya denga segala apa yang dilimpahkan kepada kita semua. Serta selalu mendakatkan diri pada-Nya

Di hari berbahagia ini semoga All-iN makin yakin dan mantap dengan langkah yang telah ditempuh, dan semoga terwujud. Amiiieennn

Manakala engkau ingat pada mereka yang telah meninggal, anggaplah dirimu termasuk di antara mereka (Abu Darda)
Pagi turun seperti biasa, tapi kali ini cerah di langit sana. Terik matahari mengintip dari balik daun pepohonan nan rindang.

Jalanan masih sungguh lengang. Ya, setiap pergi ke tempat ini, saya selalu pergi seorang diri. Dalam gegas dan semangat

Assalamu 'alaikum ya ahladdiyaar salam itu bergaung, menerobos keheningan sebuah tempat yang luas , berpenghuni tetapi sunyi. Saya menapaki jalanan setapak dengan batu-batu khas yang bersembulan hampir seragam. Rumput-rumput setengah tinggi berembun di sana-sini. Semerbak bunga kamboja sudah pasti ada.

Saya teringat  dari buku Ar-Ruh-nya Ibnul Qayyim tentang para penghuni kubur yang berebutan menjawab salam, karena salam bagi mereka adalah doa dan orang-orang yang sudah meninggal sangat bergantung dari doa dan kasih sayang dari orang-orang yang masih hidup.

Saya  terus menyusuri jalanan setapak. Penglihatan ini hanya melahap beragam pusara. Berporselen indah, berpualam cantik, berkeramik terlihat lebih banyak bahkan ada yang dibangunkan sebuah rumah di atasnya. Entah apa maksudnya. Padahal yang paling berarti, bukan kondisi megah di atas kuburan tetapi keadaan di bawah tanahnya.

Yang hidup tidak akan pernah tahu apakah di bawah kuburan berpualam itu lapang, terang dan menyenangkan. Kita tak akan paham, kuburan berkeramik indah itu penghuninya merasakan kesempitan, kengerian dan kegelapan mencekam. Siapa tahu yang kuburannya hanya bernisan sederhana adalah mereka yang sungguh beruntung, tidak mengalami siksa pedih alam kubur, berbahagia karena ditemani seseorang berparas mempesona wujud dari amal-amalan yang ia tunaikan selagi di dunia. Kita tidak pernah akan tahu.

Saya tuju sebuah gundukan tanah yang sudah tumbuh rerumputan, sejak terakhir saya kunjungi beberapa tahun yang lalu. Saya hampiri pusara biasa, tempat di mana seseorang yang sederhana itu beristirahat memenuhi sebuah kodrat. Pusara Bunda. Terpekur saya di sana, mendiamkan gemuruh hati. Ditemani senyap, saya mengalunkan pinta:

Ya Allah tidak hanya di tempat ini saya memohonkan ampun untuknya, ampunilah segala dosa-dosanya semasa hidup. Leburkanlah kesalahannya semasa di dunia.

Ya Rahiim, anugerahkan kepadanya tempat tinggal yang jauh lebih indah dari tempat di dunia, terangilah kuburnya dengan benderang cahaya, selamatkanlah ia dari bertubinya siksa kubur

Ya Rabbana, berikanlah balasan untuk Bunda, atas didikannya selalu, jua berikan kepadanya pahala besar atas keikhlasannya mengalirkan kepingan-kepingan nafkah halal untuk hamba

Yang Maha bijaksana, segala hal gangguan yang dinikmatinya karena perilaku ini jadikanlah itu semua penyebab menghilangnya segala dosa.

Yang Maha Perkasa, masukkan ia ke dalam surga Mu.
Allahumma Aamiin.


Udara tak lagi panas, ketika doa itu saya sudahi. Saya mencoba merapikan tanahnya dengan hati tak menentu. Sepenuh rindu, gundah, pasrah dan entah apa lagi.

Pusara Bunda sudah nampak bersih dari sebelumnya. Sudah saatnya berkeliling. Ya, jika mengunjungi 'kampung' ini, saya selalu berjalan-jalan melihat semua pusara yang ada. Dan dipastikan selalu ada beberapa kuburan baru. Tadinya baru ada 3 pusara di blok tempat Bunda beristirahat. Sekarang sudah lebih, nggak tau sudah berapa.

Kematian sungguh tidak ada yang dapat memperkirakan, tak memandang usia dan jabatan. Tak memilih kaya atau miskin.

Bagaimanakah keadaan saya saat ini? Mudah-mudahan Allah menerima amal kebaikan yang saya jadikan bekal selama hidup. Duh, saya juga pasti menyusul.

Ada banyak harapan setiap saya datangi tempat sunyi ini. Mengharap tamparan keras pada hati yang kian berborok legam. Menginginkan kesadaran tentang hidup dan pertanggungjawabannya kelak. Menumbuhkan ingatan, suatu saat saya juga akan berdiam sini. Tertelungkup di liang lahat paling dalam. Seperti pesan Nabi,

“Banyak-banyaklah mengingat penghancur kesenangan dunia, kematian.

Matahari kian meninggi.. Saya beranjak dari pusara mereka, dan mungkin calon tempat pusara saya kelak.

Assalamu 'alaikum ya ahlad diyaar, minal mu'miniina wal mu'minaat. Wa innaa insya Allahu bikum laahiquuna. As-alullaaha lanaa wa la kumul'afiyaat.
Saya mencoba memahami artinya, Salam sejahtera bagimu wahai penghuni kampung mu'min dan mu'minat. Insya Allah kami pun akan menyusul kalian. Kami mohonkan kepada Allah kesejahteraan bagi kami dan kamu semuanya.

Saya akan selalu mengunjungi Bunda, kalau ada waktu lagi ya! Bukan karena sibuk tetapi jarak, pulau-pulau yang luas dan lautan yang memisahkan

Rahmat De La Keke
*Kendari, suatu hari : salam cinta untuk Bunda di sana’, sepenuh doa selalu.

Tadi saya melihatnya..., tapi saya takut menyapanya...

Karena saya yakin pasti dia tidak ingin melihatku dulu...

Saya tau dari cara jalannya  yang terburu-buru dan tidak menoleh sedikitpun

Seolah-olah ada perasaan bersalah...

Oh...

    Bunda... udah hampir  8 tahun  bunda meninggalkan Ayah, saya dan adik-adikku, bentar lagi genap 8 tahun. Tepatnya tanggal 28 Agustus 2005. Bunda.di dalam hidupmu , bunda tidak pernah mengeluh atas sikap anak-anakmu yang kadang mengusik hatimu. Bunda tetap bersabar, sehingga bunda  sakitpun, kami ngga pernah tau, kalau bunda telah digoroti oleh penyakit yang parah. Di saat bunda lemah, baru kami sadari ternyata bunda ngga bisa beraktifitas lagi. Dan lebih menyedihkan lagi, Kami anak-anakmu tidak dapat menemani di saat-saat terakhir bunda di dunia ini. Sehari sebelum bunda meinggalkan kami, saya Cuma bisa mengantar bunda di pelabuhan untuk pergi berobat di Kota Kendari, dengan harapan semoga Bunda dapat sembuh secepatnya dan bisa mengasuh dan membimbing kami lagi dan beraktifitas lagi. Tapi ternyata hari itu adalah terakhir saya bisa melihat Bunda hidup walaupun dalam keadaan letih menanggung sakit yang teramat parah.

Ngga ada firasat kalau Bunda akan meninggalkan kami. Sampai keesokan harinya , di saat saya dan adik-adikku akan berangkat ke sekolah seperti biasa. Tetangga kami menanyakan ngapain kesekolah? Mendengar pertanyaan itu, saya langsung  feeling kalau ada ngga beres. Ternyata mereka sudah mendengar kabar kalau Bunda telah berpulang ke Rahmatullah. Mereka langsung menangis dan memeluk saya dan mengtaka supaya saya bersabar dan mengikhlasakan Bunda. Adik-adikku yang tengah bersipa-siap ke sekolah, melihat saya kembali ke rumah, mereka langsung menangis, mungkin mereka udah feeling juga kalau ada yang terjadi. Mereka langsung memeluk saya, dan saya katakan pada mereka supaya mulai saat ini ngga ada lagi berantem-beranteman seperti yang sudah terjadi selama ini, dan mulai saat ini kita harus saling menasihati kalau ada yang salah.

Tetangga-tetangga dan saudara famili pada datang kerumah dan mengantar kami ke Kota Kendari untuk melihat pemakaman Bunda. Kami naik kapal cepat, dan selama perjalanan walaupun ombak lagi keras tidak membuat kami panik, yang ada cuma pengen melihat Bunda. Dan tiba di kendari kami dijemput oleh famili-famili di sana. Ayah menjemut kami dengan perasaan yang hancur, jelas terlihat dimatanya. Saya dan saudara yang laki-laki, tidak mengeluarkan air mata, tetapi di dalam hati rasanya hancur banget, karena disaat kami masih membutuhkan bimbingan Bunda, apalagi saya yang paling dekat dengan Bunda merasa hilang semangat hidup. Sebelum pemakaman ayah, saya dan saudara-saudara saya, satu-satu mencium Bunda dan mendoakan semoga Bunda tenang disana dan semoga diterima disisi-Nya. Pada saat pemakaman, Adikku Wa Boila sampai pingsan karena syok, karena udah ngga bisa lagi melihat Bunda.

Walaupun kami tinggal di Raha, tapi Bunda dimakamkan di Kota Kendari yang di pisahkan oleh lautan, Kami yakin bahwa Bunda pasti senang dimakamkan di sana. Karena nanti di saat terakhirnya Bunda yang minta sendiri untuk berobat di Kendari, walaupun sebelum-sebelumnya di tawarin untuk berobat di Kendari, Bunda tetap menolak.

Bunda ….masih tercatat dalam ingatanku saat kita ngambil kayu bakar di hutan bakau, dimana saya ngankat satu balok kayu bakau, tapi dalam perjalanan saya ngga kuat. Bunda lalu memotong sebagian dan potongannya Bunda yang angkat. Itupun bukan dalam sekali, tetapi belum sampai di rumah potongan itu ngga kuat lagi saya angkat, Bunda memotongnya lagi, dan sisa potonganya Bunda yang angkat sendiri dan itu terjadi sampai tiga kali. Bunda memang seorang wanita yang perkasa.

Bunda juga mengajarkan cara memasak yang benar. Walaupu saya laki-laki selain ngankat air buat kebutuhan sehari-hari tapi saya belajar juga cara memasak, katanya sih buat bekal kalau saya udah kuliah di luar daerah, tapi ternyata sampai sekarang ngga pernah lagi masak sendiri, cukup beli makan di warung makan. Di saat bulan Puasa di saat saudara-saudaraku yang lain pada tidur, Bunda membangunkanku unruk membantu memasak buat sahur. Dan ada satu hal yang tidak pernah saya kerjakan yaitu membersihkan rumah seperti nyapu, ngepel dan sebagainya. Makanya di Kostanku sekarang, saya paling malas bersih-bersih. Jadi kalau ke kostanku di dalam kaya kapal pecah aja. Hahaha.

Ada juga kisah lucu dimana ada cewek datang bertamu ke rumah untuk bertemu dengan saya. Karena lagi ngga ada orang, adik-adikku pada maen dan saya lagi di dapur lagi masak-masak buat makan malam, Cewek tadi nanyain saya pada tetangga. La Keke nya ada? Dan tetangga saya itu tanpa pikir panjang mengatakan bahwa saya ada di dapur lagi memasak. Aduh malunya , tapi ternyata cewek ini salut juga ama saya, karena jarang-jarang laki-laki ngerjain pekerjaan dapur seperti memasak. Jadinya bangga donk..hehehe.

Bunda…. Ternyata apa yang sudah bunda ajarkan bermanfaat sampai sekarang. Bunda mengajarkan supaya kita tetap tersenyum walaupun kita disakiti atau lagi BT, Karena dengan begitu hidup kita akan selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sayang sama kita.

Tapi koq sampai sekarang saya belum menapatkan orang yang sangat sayang sama saya ya? Yang ada.. dia udah dimiliki oleh orang lain. Mudah-mudahan saya bisa mendapatkan seorang wanita seperti Bunda yang tetap tersenyum dikala sakit dan duka..

Bunda... Maafkan segala kesalahan-kesalahan Anakmu ini, dan semoga bunda tetap tersenyum di sana
..Aminnnn.

About this blog

My Profile

Foto saya
Selami hatiku, maka engkau tau siapa diriku
Tapi Engkau tak kan tenggelam karnanya
Diriku hanyalah genangangan yang tak menghanyutkan
Baik Buruk tak perlu kau tanyakan kepadaku
Tapi aku berusaha menunjukannmu
Kata-kata diatas, Kata Kerikil doang yang ga ada artinya

My Status fb

Diberdayakan oleh Blogger.
Ada kesalahan di dalam gadget ini