::DeLaKeke::

Kenangan Harapan Cinta dan Persahabatan

Manakala engkau ingat pada mereka yang telah meninggal, anggaplah dirimu termasuk di antara mereka (Abu Darda)
Pagi turun seperti biasa, tapi kali ini cerah di langit sana. Terik matahari mengintip dari balik daun pepohonan nan rindang.

Jalanan masih sungguh lengang. Ya, setiap pergi ke tempat ini, saya selalu pergi seorang diri. Dalam gegas dan semangat

Assalamu 'alaikum ya ahladdiyaar salam itu bergaung, menerobos keheningan sebuah tempat yang luas , berpenghuni tetapi sunyi. Saya menapaki jalanan setapak dengan batu-batu khas yang bersembulan hampir seragam. Rumput-rumput setengah tinggi berembun di sana-sini. Semerbak bunga kamboja sudah pasti ada.

Saya teringat  dari buku Ar-Ruh-nya Ibnul Qayyim tentang para penghuni kubur yang berebutan menjawab salam, karena salam bagi mereka adalah doa dan orang-orang yang sudah meninggal sangat bergantung dari doa dan kasih sayang dari orang-orang yang masih hidup.

Saya  terus menyusuri jalanan setapak. Penglihatan ini hanya melahap beragam pusara. Berporselen indah, berpualam cantik, berkeramik terlihat lebih banyak bahkan ada yang dibangunkan sebuah rumah di atasnya. Entah apa maksudnya. Padahal yang paling berarti, bukan kondisi megah di atas kuburan tetapi keadaan di bawah tanahnya.

Yang hidup tidak akan pernah tahu apakah di bawah kuburan berpualam itu lapang, terang dan menyenangkan. Kita tak akan paham, kuburan berkeramik indah itu penghuninya merasakan kesempitan, kengerian dan kegelapan mencekam. Siapa tahu yang kuburannya hanya bernisan sederhana adalah mereka yang sungguh beruntung, tidak mengalami siksa pedih alam kubur, berbahagia karena ditemani seseorang berparas mempesona wujud dari amal-amalan yang ia tunaikan selagi di dunia. Kita tidak pernah akan tahu.

Saya tuju sebuah gundukan tanah yang sudah tumbuh rerumputan, sejak terakhir saya kunjungi beberapa tahun yang lalu. Saya hampiri pusara biasa, tempat di mana seseorang yang sederhana itu beristirahat memenuhi sebuah kodrat. Pusara Bunda. Terpekur saya di sana, mendiamkan gemuruh hati. Ditemani senyap, saya mengalunkan pinta:

Ya Allah tidak hanya di tempat ini saya memohonkan ampun untuknya, ampunilah segala dosa-dosanya semasa hidup. Leburkanlah kesalahannya semasa di dunia.

Ya Rahiim, anugerahkan kepadanya tempat tinggal yang jauh lebih indah dari tempat di dunia, terangilah kuburnya dengan benderang cahaya, selamatkanlah ia dari bertubinya siksa kubur

Ya Rabbana, berikanlah balasan untuk Bunda, atas didikannya selalu, jua berikan kepadanya pahala besar atas keikhlasannya mengalirkan kepingan-kepingan nafkah halal untuk hamba

Yang Maha bijaksana, segala hal gangguan yang dinikmatinya karena perilaku ini jadikanlah itu semua penyebab menghilangnya segala dosa.

Yang Maha Perkasa, masukkan ia ke dalam surga Mu.
Allahumma Aamiin.


Udara tak lagi panas, ketika doa itu saya sudahi. Saya mencoba merapikan tanahnya dengan hati tak menentu. Sepenuh rindu, gundah, pasrah dan entah apa lagi.

Pusara Bunda sudah nampak bersih dari sebelumnya. Sudah saatnya berkeliling. Ya, jika mengunjungi 'kampung' ini, saya selalu berjalan-jalan melihat semua pusara yang ada. Dan dipastikan selalu ada beberapa kuburan baru. Tadinya baru ada 3 pusara di blok tempat Bunda beristirahat. Sekarang sudah lebih, nggak tau sudah berapa.

Kematian sungguh tidak ada yang dapat memperkirakan, tak memandang usia dan jabatan. Tak memilih kaya atau miskin.

Bagaimanakah keadaan saya saat ini? Mudah-mudahan Allah menerima amal kebaikan yang saya jadikan bekal selama hidup. Duh, saya juga pasti menyusul.

Ada banyak harapan setiap saya datangi tempat sunyi ini. Mengharap tamparan keras pada hati yang kian berborok legam. Menginginkan kesadaran tentang hidup dan pertanggungjawabannya kelak. Menumbuhkan ingatan, suatu saat saya juga akan berdiam sini. Tertelungkup di liang lahat paling dalam. Seperti pesan Nabi,

“Banyak-banyaklah mengingat penghancur kesenangan dunia, kematian.

Matahari kian meninggi.. Saya beranjak dari pusara mereka, dan mungkin calon tempat pusara saya kelak.

Assalamu 'alaikum ya ahlad diyaar, minal mu'miniina wal mu'minaat. Wa innaa insya Allahu bikum laahiquuna. As-alullaaha lanaa wa la kumul'afiyaat.
Saya mencoba memahami artinya, Salam sejahtera bagimu wahai penghuni kampung mu'min dan mu'minat. Insya Allah kami pun akan menyusul kalian. Kami mohonkan kepada Allah kesejahteraan bagi kami dan kamu semuanya.

Saya akan selalu mengunjungi Bunda, kalau ada waktu lagi ya! Bukan karena sibuk tetapi jarak, pulau-pulau yang luas dan lautan yang memisahkan

Rahmat De La Keke
*Kendari, suatu hari : salam cinta untuk Bunda di sana’, sepenuh doa selalu.

3 komentar:

Anonim mengatakan... 9/14/2006 12:09:00 PM  

Nice site!
[url=http://hreospxb.com/feav/izmw.html]My homepage[/url] | [url=http://jjxrhelu.com/llzm/aadi.html]Cool site[/url]

Anonim mengatakan... 9/14/2006 12:09:00 PM  

Nice site!
My homepage | Please visit

Anonim mengatakan... 9/14/2006 12:09:00 PM  

Great work!
http://hreospxb.com/feav/izmw.html | http://ybpwefih.com/wpzu/vaec.html

About this blog

My Profile

Foto saya
Selami hatiku, maka engkau tau siapa diriku
Tapi Engkau tak kan tenggelam karnanya
Diriku hanyalah genangangan yang tak menghanyutkan
Baik Buruk tak perlu kau tanyakan kepadaku
Tapi aku berusaha menunjukannmu
Kata-kata diatas, Kata Kerikil doang yang ga ada artinya

My Status fb

Diberdayakan oleh Blogger.
Ada kesalahan di dalam gadget ini